Skip to content

Ditagih debt collector

Hari ini tidak dinyana saya ada yang mendatangi ke kantor. Dan yang datang itu adalah debt collector kartu kredit. Ternyata ada tagihan atas kartu kredit yang sudah saya tutup 2 tahun lalu padahal selama ini tidak pernah ada pemakaian maupun billing. Setelah ditunjukkan datanya ternyata tertera data saya kecuali bahwa alamat rumahnya berbeda. Wah, ini ada yang enggak bener… jadi saya menolak untuk membayar sesuatu yang belum jelas tanggungjawab saya. Yang jadi masalah bagian collection bank tersebut mengancam bahwa kalau tidak diselesaikan, maka nama saya akan di-blacklist oleh BI sehingga tidak bisa lagi menjadi debitur bank mana pun…..hmmm kebetulan, secara saya tidak mau berhutang lagi ke bank…

Tapi lepas dari itu semua, kejadian ini mengingatkan saya untuk tidak lagi mengumbar data pribadi ke siapa pun termasuk kepada agen-agen kartu kredit yang suka maksa-maksa mendaftarkan kartu kredit baru.

Harus nulis

Baru nyadar ada email dari admin blogdetik bahwa blog yang tidak aktif selama setahun lebih akan dihapus jika sebulan setelah diemail tidak diaktifkan. Oleh karena itulah saya nulis lagi…Sayang juga tulisan se-upil ini jika dihapus…

Meniru dan menghibur

Saya saat menulis blog ini sedang berada di lobi hotel Royal Victoria Sengatta Kaltim… menikmati lantunan lagu-lagu Iwan Fals yang slow dan mellow dari seorang entertainer dengan musik accoustic guitar…suaranya mirip banget dengan Iwan Fals…dan yang paling penting..terasa menghibur..setelah seharian menguras otak bekerja di jobsite…

thanks bro’

Nguping yang enggak dosa

Kemarin dalam perjalanan dari bandara pulang ke Bogor di dalam bisa Damri saya belajar tentang ‘wisdom of life’ dari perbincangan dua orang penumpang bis di tempat duduk di belakang saya… What a valuable lessons, I think…
Bapak yang satu sudah sepuh dan berkarir di sektor swasta, tampaknya pernah menjadi petinggi suatu perusahaan…sedangkan satunya lagi lebih muda merupakan dosen IPB…
Dari bapak yang sepuh saya banyak mengutip hal-hal yang indah sekali maknanya …
Beliau berkata : ada orang yang mempunyai kekayaan luar biasa tetapi tidak bisa mendapatkan manfaat yang optimal dari kekayaannya…apalagi memberi manfaat untuk orang lain …
Beliau berkata : hidup ini bagai naik sepeda…you berhenti you roboh…
Pada saat kecil orang pingin cepat besar..tapi mendekati usia 60 dia pingin hari-hari berjalannya lambat…so apa yang pada awalnya kita inginkan pada akhirnya kita lawan sendiri…
Orang yang mau bahagia dengan bersyarat akan menjadi tidak bahagia…. Kita jangan merencanakan kebahagian jika sudah begini begitu tetapi kita harus bahagia bahkan dari sejak kemarin-kemarin tanpa syarat
Orang yang beli barang konsumsi dengan kredit sama dengan merampok masa depannya sendiri…waks…ini sih nyindir gue euy….
Beliau punya anak…di-challenge untuk berwirausaha..jadilah usaha import daging … Nasihatnya buat anaknya kalau punya usaha janganlah hanya berorientasi dapat untung, tapi orientasilah bagaimana usahanya bisa memberi manfaat yang lebih besar lebih dari sekadar untung…misalnya mengapa dia pilih jualan daging..dari pandangannya negara-negara … Baca Selengkapnyayang ekonominya maju konsumsi daging lebih tinggi dari karbohidrat…jadi cobalah bagaimana bisa jualan daging lebih terjangkau sehingga yang beli bisa semakin banyak…dari sisi market share tumbuh dan dari sisi kemanfaatan juga makin bertambah…

Hargailah almamater-mu

Hari saya mendapat nasihat yang sederhana namun mendalam (daleem gitu loh…). Salah seorang pejabat pemerintahan diundang oleh kantor saya untuk sharing tentang kepemimpinan dan bolo-bolonya kepada jajaran karyawan. Adapun pejabat tersebut merupakan pembantu pak presiden (setelah berbelit-belit Anda baca, tentu Anda tahu yang saya maksud beliau adalah seorang menteri kabinet). Kebetulan, nah sebenarnya tentu saja bukan kebetulan, beliau dulu pernah bekerja di kantor saya (maksudnya kami, karena saya belum punya kantor sendiri). Jadilah acara sharing ini menjadi semacam reuni atau kangen-kangenan alumnus senior terhadap almamaternya.

Sebagai orang yang punya ikatan emosional terhadap perusahaan kami, tentu saja beliau kami rasakan cukup informal dalam bertutur. Ini membuat kami tidak segan untuk tertawa jika ada lemparan lelucon ringan dari beliau. Pada akhirnya sepanjang pembicaraan materi yang disampaikan sangat renyah walaupun disampaikan di forum resmi korporasi dengan tema “Nation & Character Building” dengan sponsor utama dari presiden direktur (tentu saja presdir wajib hadir wong yang datang menteri kok).

Apa yang dapat saya tarik dari sharing ini ? Harusnya sih banyak, namun saya mencatat satu hal saja cukup dalam menyentuh sanubari saya. Beliau berpesan agar kita menghargai almamater kita. Dan almamater tidak dikungkung oleh definisi sempit sekolah atau kampus saja, melainkan mulai dari almamater keluarga, sekolah (dari TK sampai perguruan tinggi), perusahaan tempat kita pernah bekerja, dan juga bangsa dan negara. Betapa pun kita mungkin perrnah kecewa dengan salah satu dari almamater tersebut, namun janganlah kita memburuk-burukkannya. Kalaupun tidak cinta mati ya hargailah mereka sebagai bagian dari sungai kehidupan yang memberi kita air kedewasaan (kalau ini kalimat dari saya pribadi , bukan kutipan dari beliau, tapi saya tafsirkan demikian).

Barangkali sharing ini menjadi sangat berarti bagi saya terutama dalam hal tersebut untuk menyadarkan saya bahwa saya belum begitu menghargai sepenuhnya atas almamater saya….

Catatan : Pejabat yang dimaksud adalah Bapak Jero Wacik - Menteri Pariwisata dan Kebudayaan Kabinet Indonesia Bersatu

Moody

Saya sedang menunggu mood buat nulis lagi. Sayangnya neng ‘moody’ ini sering jual mahal. Ditunggu-tunggu tidak juga muncul, tapi giliran sedang tidak berniat eh samar-samar menampakkan wajahnya…Coba saya punya kamera digital 15 mega pixel, pas penampakkan begitu mau tuh saya potret mukanya biar jelas, jadi saya ga usah cape-cape lagi membayangkan dan melukiskannya..

Yang saya maksud neng ‘moody’ ini bukan wajah Maudy tapi kemunculan gagasan dan mood untuk mencurahkannya dalam bentuk buah pena (atau buah keyboard .. kan sekarang udah pake laptop) yang terstruktur dengan baik dan yang paling penting dapat di-share kepada yang lain. Bukankah sekarang ini jaman aktualisasi diri dengan berbagi gagasan dan bertukar pikiran?

Mudah-mudahan lain kali neng ‘moody’ mau berlama-lama menghampiri saya sehingga saya bisa menulis lagi seperti nasihat sahabat penulis saya…

KONTEMPLASI KECIL

Ketika sedang memotivasi lagi diri sendiri untuk belajar menulis, teringat coretan saya ‘jadul’ yang ada di folder dokumen… Waktu itu blog belum lahir, koneksi internet pun masih satu kemewahan, jadi tulisan ini terselip di antara ratusan file-file lama. Sekarang saya angkat ‘nasibnya’ ke dunia blog…

 

KONTEMPLASI KECIL

Baru saja terpikir oleh saya, bahwa saat orang menyendiri di toilet, dan berupaya menyalurkan energinya untuk suatu kenikmatan (atau kelegaan) atas hilangnya beban di perutnya, ia sedikitnya memiliki saat-saat yang efisien untuk berkontemplasi. Tidak heran kalau ada gagasan besar lahir di ruangan yang paling-paling berukuran 1,5 X 1 X 2 m itu (bisa lebih luas, tergantung tersedia tidaknya lahan dan finansial untuk membangunnya). Kalau pun asal-usul sang gagasan ini tidak dibeberkan dalam liputan pers terhadap si empunya gagasan, mungkin karena sifat (sebagian) kita yang cenderung kurang (atau malu) mengakui dan menghargai hal-hal tertentu yang dianggap bukan levelnya.

Ini satu contoh sangat sepele yang saya alami sendiri. Maksud saya, bukan berarti saat ini saya punya a big idea hasil pemikiran efektif saat buang hajat, tetapi cetusan spontan seorang kolega di tempat kerja dulu yang dengan begitu berair-airnya (suatu istilah yang tidak bombastis untuk menyebut orang yang saking semangatnya bicara, sehingga turun rintik hujan yang sama sekali tidak romantis dari mulutnya) menceritakan pengalaman batinnya di ruang semadhi yang kadang-kadang berparfum karbol itu. Ia cerita beberapa hal yang katanya tak akan terpikir kalau sehabis meeting dengan direksi saat itu ia tidak diserbu sakit perut, sehingga perlu memasatkan elan-kreatif fisik dan mentalnya di WC.

Dua alinea yang saya tuliskan dia atas bagi Anda boleh jadi dianggap alinea sumbang yang kurang relevansinya (pinjam istilah bang Mandra) dengan tema tulisan ini. Tapi percayalah, barangkali kita memang kurang didikan untuk menghargai tema-tema kecil dan sumbang seperti itu. Jadi, apa sih inti coretanmu ini ? Begitu bisikan tiga-perempat nggerundel dalam hati Anda, sekali lagi barangkali

Anda harus menyadari kalau adanya besar itu disangga oleh kekuatan luarbiasa dari sebuah kata kecil. Ini memang soal kecil, tapi yang jelas eksistensinya ada. Bayangkan, jika kosa kata kecil itu dikodratkan untuk tidak lahir di bumi ini, maka tak akan ada bangunan besar, kerajaan besar (atau negara besar), hingga ke pemikiran besar dan segala hal yang disifati oleh sang lawan kata dari kecil.

Jadi beruntunglah si besar, eksis dengan adanya si kecil. Si kecil yang dengan tabah dan penuh ke-nrimo-an tetap berlaku sebagai si kecil. Kecil yang tak pernah berambisi (atau bahkan bermimpi sekalipun) untuk menjadi besar. Karena jika pun itu terjadi, toh ia akan menghilangkan eksistensinya sendiri begitu si kecil tiada.

Ujung-ujungnya dengan naifnya saya mengajak saya dan Anda semua untuk kembali merenungkan pemahaman kita atas dialektika yang indah (atau ruwet atau malah enggak ada artinya ?) ini. Dan Tuhan itu memang maha Besar karena ketidakmampuan manusia membahasakan sifat-Nya yang Akbar (Tuhan maha Besar, tetapi Beliau tidak memerlukan adanya tuhan maha kecil) Toh, betapa besar ilmu-Nya sehingga Dia telah menganugerahkan sekandung besar dan kecil yang oleh manusia lugu ini dipertentangkan sebagai kata-kata yang berlawanan dengan kesenjangan yang lebar di antara keduanya.

Dan, saya lihat sobekan majalah promosi yang ditempelkan di bawah cermin oleh sahabat saya di kamar kontarkannya. Kulihat tulisan :

kecil itu manis

besar juga manis

andaikan

kesenjangan dilinggis

dan dikikis

habis

maka

si kecil dan si besar

bagai bunga mawar

dan hujan gerimis.

Saya sadar bahwa saya belum bisa menyentuh kedalaman untaian kalimat tersebut seperti yang dirasakan oleh penulisnya atau pengutipnya. Tetapi dari hal kecil inilah, di kamar kontrakan kecil yang di dalamya ada WC kecil, barangkali saya dapat ilham untuk menuliskan hal kecil seperti ini.

Bogor, 26-03-1997

PERCEPTION

Ini tulisan ‘jadul’ juga :

PERCEPTION

 

 

 

Yang ingin saya kemukakan saat ini adalah mengenai makhluk bernama persepsi. Bukannya karena sekarang ini saya sedang dikelilingi oleh kunang-kunangan persepsi di kepala saya, baik itu topik penelitian saya, topik penelitian sohib-sohib saya, topik penelitian si X, si Y, si Z. Lho, apa pula ini? Yang diteliti koq persepsi melulu? Apa ada sayembara persepsipromo, gitu?

Yang saya tahu si persepsi ini selalu dikait-kaitkan dengan subyektivitas seseorang dalam memandang sesuatu. Pakar lain mengatakan persepsi sebagai proses reaksi terhadap aksi yang dipengaruhi oleh stimulus. Aksi itu semacam causa, atau letupan proses maupun benda yang menjadi penyebab adanya reaksi. Reaksi sendiri timbul , ya akibat adanya aksi sesuai namanya re-aksi, artinya aksi kembali. Namun dengan pengertian dari sang pakar tadi, perjalanan dari aksi ke reaksi tidaklah mulus, melainkan melewati stimulus. Nah, akibatnya tulisan saya ini jadi terlalu teknis, kata orang awam, atau pabaliut, kata orang Cibaduyut.

Saya sih berdoa saja bahwa pengertian yang saya ajukan barusan tidak menimbulkan polemik (Ge-Er nih) seperti di suara pembacanya koran-koran antara konsumen dan produsen sabun yang saling ngotot tentang siapa yang tidak bersalah. Paling tidak di benak Saudara-saudara terbayang alur pengertian yang standar deviasinya kecil, tapi tidak nol (keragaman itu kan perlu, toh, kalau enggak, gimana dong nasibnya para dosen Statistika?)

Bagi saya, tanjakan -atau turunan- (yang ini sih bukannya differensial dalam kalkulus yang ruwet itu) yang subur di belakang atau samping kampusku di Baranangsiang bisa jadi perumpamaan darurat untuk menjelaskan persepsi menurut persepsi saya, tentunya.

Di tempat itu, kalau pas siang lagi terik-teriknya, bagi mahasiswa yang ketiban sial kuliah tengah hari harus mulai mempersiapkan fisik dan mental begitu berada di hadapan tanjakan tersebut. Bagi dia atau mereka tanjakan itu sebuah perjuangan yang berat. Bagi mahasiswa yang ikhlas belajar dengan niat karena Alloh SWT mungkin beratnya perjuangan mencari ilmu ini menjadi ibadah. Jadi dia melewatinya dengan hati yang ringan saja. Lainnya berjalan sambil menggerundel, baik dilampiaskan ke temannya maupun dibungkus saja dalam hati. Memang jadinya beda-beda pandangan mereka, tetapi inilah masalah persepsi. Aksinya sama, yaitu tanjakan, reaksinya bisa berbeda-beda karena stimulusnya (dalam hal ini sudut pandang penilaian) pun berbeda-beda.

Sebaliknya juga dari arah berlawanan, si tanjakan tadi yang jelas-jelas menanjak, dengan kekuatan relativitas vektor perjalanan dengan arah yang sebaliknya, eksistensinya tidak berupa tanjakan lagi. Anda tahu bahwa anak kecil pun tahu itu jalan yang menurun. Dari aksi ini, maka reaksi yang muncul pun akan berlainan pula, toh. Dus, ternyata tak hanya dua rekasi yang bisa muncul dari satu aksi yang sama, bisa tiga, empat, lima atau bahkan sebanyak kepala orang di muka jagat ini.

Dalam konteks lain saya teringat ucapan atau tulisan dosen saya yaitu bahwa Bernard Shaw pernah menyatakan kalau seorang punya apel dan seorang lagi punya apel, jika dipertukarkan maka akan masing-masing akan dapat satu apel. Tetapi kalau yang dipertukarkan itu bukan apel melainkan pemikiran, maka masing-masing kan punya dua pemikiran. Di sini dosen saya menambahkan bahwa bukan hanya dua pemikiran yang akan didapatkan, tetapi bisa jadi tiga, empat, lima dst., tergantung persepsi dan derajat intensifnya perdiskusian.

Perbedaan memang merupakan rahmat, seperti juga keragaman adalah rahmat bagi mahasiswa Stk (atau sumber keruwetan?). Tetapi di balik itu semua saya yakin, haqqul yakin, Alloh SWT tak akan menciptakan ketaksamaan-ketaksamaan dengan sia-sia. Yang mungkin agak sia-sia adalah otak manusia yang tidak digunakan oleh manusianya untuk memarifati hal itu.

Maksud saya begini, jika ada satu kasus X yang di mata masyarakat berarti Y, namun di mata penguasa artinya Z dengan posisi yang saling menuding, haruslah ada solusi paling bijak yang berlandaskan tidak hanya kepada kebenaran uni-dimensional yang merupakan stimulus satu pihak saja. Kita rasanya percaya bahwa sesuatu itu tidak selalu hitam-putih dengan batas yang jelas, namun harus pula diyakini adanya satu dan hanya satu kebenaran yang secara multi-dimensional menjadi centroid yang adil bagi masalah tersebut.

Barangkali yang penting adalah adanya penyamaan persepsi terhadap kesadaran untuk memahami adanya realitas al-Haq yang mewakili semua sumbu dimensi yang jumlahnya multi dan kadang absurd bagi kita.

 

 

 

Bogor, 27-03-1997

Plagiator..

Saya tidak tahu saya ini termasuk plagiator atau bukan. Namun paling tidak saya tidak berniat demikian. Apa pasalnya? Judul blog ini, saya harus terus terang, adalahkutipan dari nasihat sahabat hebat saya yang seorang penulis. Mulanya saya ‘curhat’ bahwa saya benar-benar ingin menulis (sejak lama saya memang ingin menulis apa saja, entah buku, novel, memoar, atau pun artikel) yang keinginan itu semakin kuat setelah menemukan bahwa sahabat saya telah menjadi penulis profesional.

Atau plagiator itu apa, mungkin saya tidak begitu paham artinya. Tapi sepemahaman saya maknanya negatif. Saya pernah membaca seorang ‘trainer’ profesional dari negeri seberang ‘mencak-mencak’ di blognya bahwa karyanya dibajak dan dia bermaksud menuntut secara hukum. Akan halnya ’sang tertuduh’ membela diri bahwa apa yang dianggap dibajak adalah ilmu pengetahuan umum yang siapa saja bisa mendapatkan informasi tersebut secara bebas dan menuliskan lagi sesuai persepsinya. Dalam hal ini saya merasa ada perbedaan definisi plagiat itu apakah dari sisi substansi atau cara.

Kembali ke tulisan saya ini, mudah-mudahan saya tidak termasuk plagiator, atau paling tidak jangan sampai menjadi seorang plagiator yang jahat (emang ada plagiat yang baik?). Atau paling tidak di sini saya mau minta ijin sama sang empunya kalimat bahwa saya meminjam kalimatnya untuk judul blog ini. Saya sedang belajar menulis dan sesuai nasihatnya saya tulis apa saja yang terpikir. Dan kebetulan yang terpikir saat ini adalah kalimat tersebut. Terima kasih atas nasihatnya … dan saya mulai menulis ….

Halo dunia!

Welcome to Blogdetik.com. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!