Ini tulisan ‘jadul’ juga :
PERCEPTION
Yang ingin saya kemukakan saat ini adalah mengenai makhluk bernama persepsi. Bukannya karena sekarang ini saya sedang dikelilingi oleh kunang-kunangan persepsi di kepala saya, baik itu topik penelitian saya, topik penelitian sohib-sohib saya, topik penelitian si X, si Y, si Z. Lho, apa pula ini? Yang diteliti koq persepsi melulu? Apa ada sayembara persepsipromo, gitu?
Yang saya tahu si persepsi ini selalu dikait-kaitkan dengan subyektivitas seseorang dalam memandang sesuatu. Pakar lain mengatakan persepsi sebagai proses reaksi terhadap aksi yang dipengaruhi oleh stimulus. Aksi itu semacam causa, atau letupan proses maupun benda yang menjadi penyebab adanya reaksi. Reaksi sendiri timbul , ya akibat adanya aksi sesuai namanya re-aksi, artinya aksi kembali. Namun dengan pengertian dari sang pakar tadi, perjalanan dari aksi ke reaksi tidaklah mulus, melainkan melewati stimulus. Nah, akibatnya tulisan saya ini jadi terlalu teknis, kata orang awam, atau pabaliut, kata orang Cibaduyut.
Saya sih berdoa saja bahwa pengertian yang saya ajukan barusan tidak menimbulkan polemik (Ge-Er nih) seperti di suara pembacanya koran-koran antara konsumen dan produsen sabun yang saling ngotot tentang siapa yang tidak bersalah. Paling tidak di benak Saudara-saudara terbayang alur pengertian yang standar deviasinya kecil, tapi tidak nol (keragaman itu kan perlu, toh, kalau enggak, gimana dong nasibnya para dosen Statistika?)
Bagi saya, tanjakan -atau turunan- (yang ini sih bukannya differensial dalam kalkulus yang ruwet itu) yang subur di belakang atau samping kampusku di Baranangsiang bisa jadi perumpamaan darurat untuk menjelaskan persepsi menurut persepsi saya, tentunya.
Di tempat itu, kalau pas siang lagi terik-teriknya, bagi mahasiswa yang ketiban sial kuliah tengah hari harus mulai mempersiapkan fisik dan mental begitu berada di hadapan tanjakan tersebut. Bagi dia atau mereka tanjakan itu sebuah perjuangan yang berat. Bagi mahasiswa yang ikhlas belajar dengan niat karena Alloh SWT mungkin beratnya perjuangan mencari ilmu ini menjadi ibadah. Jadi dia melewatinya dengan hati yang ringan saja. Lainnya berjalan sambil menggerundel, baik dilampiaskan ke temannya maupun dibungkus saja dalam hati. Memang jadinya beda-beda pandangan mereka, tetapi inilah masalah persepsi. Aksinya sama, yaitu tanjakan, reaksinya bisa berbeda-beda karena stimulusnya (dalam hal ini sudut pandang penilaian) pun berbeda-beda.
Sebaliknya juga dari arah berlawanan, si tanjakan tadi yang jelas-jelas menanjak, dengan kekuatan relativitas vektor perjalanan dengan arah yang sebaliknya, eksistensinya tidak berupa tanjakan lagi. Anda tahu bahwa anak kecil pun tahu itu jalan yang menurun. Dari aksi ini, maka reaksi yang muncul pun akan berlainan pula, toh. Dus, ternyata tak hanya dua rekasi yang bisa muncul dari satu aksi yang sama, bisa tiga, empat, lima atau bahkan sebanyak kepala orang di muka jagat ini.
Dalam konteks lain saya teringat ucapan atau tulisan dosen saya yaitu bahwa Bernard Shaw pernah menyatakan kalau seorang punya apel dan seorang lagi punya apel, jika dipertukarkan maka akan masing-masing akan dapat satu apel. Tetapi kalau yang dipertukarkan itu bukan apel melainkan pemikiran, maka masing-masing kan punya dua pemikiran. Di sini dosen saya menambahkan bahwa bukan hanya dua pemikiran yang akan didapatkan, tetapi bisa jadi tiga, empat, lima dst., tergantung persepsi dan derajat intensifnya perdiskusian.
Perbedaan memang merupakan rahmat, seperti juga keragaman adalah rahmat bagi mahasiswa Stk (atau sumber keruwetan?). Tetapi di balik itu semua saya yakin, haqqul yakin, Alloh SWT tak akan menciptakan ketaksamaan-ketaksamaan dengan sia-sia. Yang mungkin agak sia-sia adalah otak manusia yang tidak digunakan oleh manusianya untuk memarifati hal itu.
Maksud saya begini, jika ada satu kasus X yang di mata masyarakat berarti Y, namun di mata penguasa artinya Z dengan posisi yang saling menuding, haruslah ada solusi paling bijak yang berlandaskan tidak hanya kepada kebenaran uni-dimensional yang merupakan stimulus satu pihak saja. Kita rasanya percaya bahwa sesuatu itu tidak selalu hitam-putih dengan batas yang jelas, namun harus pula diyakini adanya satu dan hanya satu kebenaran yang secara multi-dimensional menjadi centroid yang adil bagi masalah tersebut.
Barangkali yang penting adalah adanya penyamaan persepsi terhadap kesadaran untuk memahami adanya realitas al-Haq yang mewakili semua sumbu dimensi yang jumlahnya multi dan kadang absurd bagi kita.
Bogor, 27-03-1997